BPP KOSTRATANI Kota Malang Menuju Lumbung Pangan Dunia

kawani.id | Regenerasi petani menjadi salah satu faktor kunci untuk kemajuan dan modernisasi pertanian Indonesia. Melalui regenerasi, penggarapan lahan, proses produksi, dan agrobisnis akan dijalankan oleh mayoritas kelompok petani muda atau kaum milenial yang biasanya bekerja lebih produktif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi serta selalu kreatif berinovasi.

Kunci dari petani dan pertanian berteknologi adalah adanya regenerasi petani. Untuk menarik anak-anak muda ke pertanian, sektor pertanian harus  menjanjikan dan menguntungkan dengan pembukaan akses pasar, inovasi, dan tekhnologi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Malang Ir. Diah Ayu Kusumadewi, MT mengatakan bahwaLahan pertanian di Kota Malang  sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan Kota Malang. 

Sebagian besar lahan yang tersebar di 5 BPP kostratani yaitu sekitar 1.014 hektare, 820 Ha  ditanami padi dan sisanya untuk tebu, Jagung, Sayuran, pakan hijauan ternak dan pekarangan. Selama ini, lahan pertanian yang ada baru mampu memenuhi kebutuhan dalam kota hanya 10 persen.

“Sisanya dipasok dari kabupaten di sekitar Kota Malang, terutama dari Kabupaten Malang,” jelas Diah.

Sisi lain, menurut ibu nomor satu di Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kota Malang, terkait dengan regenerasi penyuluh dari jumlah 30 orang penyuluh yang ada dan tersebar di 5 BPP Kostratani, 50 % diantaranya penyuluh muda yang In Sya Allah memahami tentang IT. Diharapkan dengan penyuluh penyuluh muda yang menguasai IT akan dapat menarik petani petani muda sehingga proses regenerasi petani dapat diwujudkan.

Menyadari akan keterbatasan lahan sawah yang dimiliki Kota Malang, Sejak dini, diharapkan masyarakat mengenal potensi pangan di daerahnya. Sehingga ada sedikit kemandirian dari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan meski dengan jumlah yang tidak besar. Namun, apabila seluruh keluarga memanfaatkan lahan sempit di rumah dengan teknik pertanian yang kekinian, Diah yakin kebutuhan keluarga akan dapat dipenuhi. 

Lebih lanjut perempuan berhijab ini menyampaikan sesuai arahan wali kota Malang, maka kami melalui BPP Kostratani akan terus mendorong agar pemanfaatan lahan sempit terus dilakukan untuk pemenuhan gizi keluarga juga.

Selain padi dan sayuran masyarakat juga didorong untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telor secara mandiri. Sehingga mengurangi ketergantungan membeli dari daerah lain. Mudah-mudahan sekecil apapun melalui BPP Kostratani Kota Malang ikut andil  untuk  Menuju Lumbung Pangan  Dunia.Demikian Diah mengakhiri perbincangannya.

Langkah yang diambil oleh Dinas Pertanian Kota Malang, sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian tidak henti-hentinya mendorong kehadiran petani milenial untuk mendukung pembangunan pertanian. Hal ini disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, menurut Prof. Dedi Nursyamsi, Petani milenial adalah penerus pembangunan pertanian di Indonesia. Keberhasilan pembangunan pertanian tergantung pada jumlah petani pengusaha milenial. Dedi juga mengajak insan pertanian untuk terus sama-sama mencetak petani milenial. 

“Ayo sebanyak-banyaknya lahirkan petani milenial. Petani milenial yang ada juga bisa mengajak rekan-rekannya agar terjun ke pertanian. Kalau ada 1000 petani milenial, In Sha Allah kita akan menghadapi pertanian yang lebih maju,” paparnya.

Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, mengatakan selalu mengandalkan impor tentu tidak baik, sementara alam kita masih banyak potensi yang dapat dioptimalkan dan  dikembangkan.

Oleh karena itu, kita harus juga memperkuat diversifikasi pangan lokal. Kita punya jagung, pisang, umbi-umbian dan lainnya yang sangat kaya karbohidrat yang bisa menjadi alternatif sebagai pengganti nasi.

Sekarang tinggal bagaimana para penyuluh sebagai garda terdepan mampu memberi motivasi sehingga para petani juga semangat dan pertanian akan terus terjaga. Karena penyuluh yang semangat akan turun ke lapangan mendampingi petani dan memastikan produksi tetap berlangsung. (wan)