7 Pendekar Petani Milenial Sambangi BBPP Batu

Pembangunan pertanian belum cukup kalau hanya bicara inovasi, sarana dan prasarana, termasuk kebijakan peraturan perundangan. Sumber Daya  Manusia (SDM) menjadi faktor penentu, untuk itu upaya meningkatkan kualitas dan kapasitas SDM yang maju, mandiri, dan modern menjadi sangat penting. Dengan kemampuan SDM seperti itu akan mampu mengimplementasikan inovasi, sarana dan prasarana dengan baik dan benar, serta mampu mengusulkan kebijakan peraturan perundangan yang mendukung pertanian

Keberadaan petani milenial sebagai tombak regenerasi petani, mereka menjadi andalan menuju pertanian 4.0 yang maju, mandiri, dan modern. Inovasi teknologi 4.0 di masa pandemi Covid-19 makin terasa sangat penting dilakukan. 

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Prof. Dedi Nusyamsi, bahwa jumlah petani Indonesia saat ini di tahun 2020 ada sekitar 33 juta jiwa. Dari jumlah itu, didapat data bahwa hanya 29% petani yang usianya kurang dari 40 tahun, atau disebut sebagai petani milenial. Faktor pengungkit produktivitas adalah inovasi teknologi dan sarana prasarana pertanian, serta kebijakan peraturan perundangan termasuk local wisdom, yang masing-masing kontribusinya sekitar 25%.Sedangkan yang paling besar adalah SDM yang kontribusinya mencapai 50% dalam produktivitas.

Workshop penyusunan kurikulum  yang diinisiasi BBPP Batu, dilaksanakan mulai tanggal 12 sd 13 Agustus 2020, 7 orangpetani milenial ini akrab dengan komunikasi, media, termasuk teknologi digital. Dari pertemuan ini akan memberi sumbangsih pemikiran terkait dengan model pelatihan vokasi yang diminati oleh generasi milenial. Masukannya yang diberikan diantaranya materi yang diberikan lebih menitik beratkan pada unsur praktek langsung di lapangan. Hal lain adalah pelatihan yang berbasis IT juga harus menjadi prioritas.

Dihubungi melalui aplikasi Zoom Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu Dr. Wasis Sarjono, S.Pt, M.Si, mengharapkan bahwa output dari kegiatan ini disamping  kurikulum yang diminati/ dibutuhkan oleh para generasi milenial dan akan dapat melahirkan pelatihan vokasi petani yang mandiri, bahkan mampu membuka peluang kerja untuk petani lainnya. Sehingga kekurangan tenaga petani dapat terselesaikan dan sekaligus pembangunan sektor pertanian dapat segera diwujudkan.(T2S/Wan)