Ujian Keputusasaan

Prasangka hamba-Nya itulah yang akan terjadi. Prasangka yang baik membuahkan kebaikan. Prasangka buruk berbuah keburukan. Prasangka adalah persepsi seseorang terhadap sifat-sifat Allah. Maka berhati-hatilah? Ini cerminan iman. Ini cermin dari nilai-nilai yang mengakar dalam jiwa seseorang, pengalaman yang telah dilaluinya dan kepahaman ilmu yang didapatkannya.

Liku-liku kehidupan sebuah ujian. Lalu, prasangka apa yang ditampilkan? Cara pandang apa yang dimunculkan? Jangan sampaiĀ  dikendalikan oleh apa yang terjadi dan perasaan emosi semata. Pahamilah prinsip alam semesta sejak manusia diciptakan bahwa berkesudahan yang baik hanya bagi orang yang beriman dan bertakwa. Setiap yang terjadi untuk melihat diri, adakah iman dan takwa di hati kita?

Ada doa yang selalu dimohonkan saat khatam Al Quran. Yaitu, memohon kebaikan dari semua kejadian yang dialami. Tak peduli apa yang terjadi, namun bagaimana agar akhirnya baik? Jangan memikirkan takdirnya, tapi bagaimana merekayasa kebaikan dari semua takdir. Menemukan ilmu yang mendalam dalam semua kejadian. Itulah ikhtiar manusia. Ingatlah, semua kejadian dalam rancangan Allah yang Maha Halus dan Bijaksana.

Seorang sejarawan pernah menyimpulkan dari semua perjalanan sejarah manusia. Hasilnya, mereka yang memprediksi keburukan terhadap akhir liku-liku perjalanan hidupnya berarti sudah berburuk sangka kepada Allah.

Bukankah Ar Rahim dan Ar-Rahim menjadi sifat utama-Nya? Sifat yang pertama kali diperkenalkan kepada hamba-Nya?

Andai menduga bahwa kebaikan dan keadilan tidak bisa menjadi wajah peradaban manusia, berarti sudah berburuk sangka kepada Allah. Andai menduga bahwa keburukan dan kezaliman tidak bisa dihentikan, berarti sudah berburuk sangka kepada Allah.

Bukankah Allah berjanji, bila kebenaran ditegakkan maka kebatilan akan lenyap dengan sendirinya? Persoalannya, siapakah yang bersiap menjadi martir kebenaran?

Jerih payah dan liku-liku kehidupan terjadi untuk menguji persepsi dan pemikiran manusia. Persepsi apa yang dimunculkan? Cara berfikir seperti apa yang bergelora dalam jiwa? Kehidupan nyata yang tercipta bermula dari apa yang muncul dari benak pemikiran kita sendiri. Energi yang ditangkap dan direspon yang dilakukan tergantung dari persepsi yang dihadirkan dalam mengarungi kehidupan.

Mengapa keputusasaan dilarang? Mengapa mati dalam keputusasaan, seperti bunuh diri, diganjar neraka? Karena mereka sudah tidak meyakini maha Kerahmanan Allah di semesta ini. Tak meyakini kebijaksanaan Allah. Maka apa gunanya iman kepada Allah tetapi tak meyakinkan Asmaulhusna-nya?

Keadaan terjepit dan terhimpit. Keadaan tak ada yang menolong dari seluruh makhluk adalah ujian. Persepsi apa yang terbangun terhadap kehidupan dan Allah

Saat para Khalifah dan seluruh struktur pemerintahnya menyiksa imam Ahmad bin Hambal. Saat tak ada ulama dan masyarakat yang mampu menghentikan penyiksaan para penguasa. Apakah Imam Ahmad berputus asa?

Saat Sayid Qutb disiksa oleh diktator Gamal Abdul Nasser, apakah terlihat wajah keputusaasaan dan kesedihan dari wajahnya? Itulah ujian berupa rasa keputusasaan. Mau diikuti atau dihancurkan? Saat Palestina berjuang sendiri menghadapi tipu daya Yahudi dan konspirasi adi daya, apakah terlihat keputusaasaan di wajah rakyatnya?

Mereka terus berjuang walau hanya menggunakan batu. Yang mereka pilih tetap pilih hanya berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Rahman.

Rasa keputusaasaan adalah ujian jiwa. Bisakah memenangkannya? Atau mengikuti arus kehancurannya?

Penulis : Nasruloh Baksolahar