Peran UMKM Menghadapi Badai Resesi

kawani.id | Pandemi virus corona yang melanda negeri ini selama tujuh bulan terakhir ini meluluhlantakan perekonomian indonesia di semua sektor, termasuk UMKM yang menjadi penopang perekonomian terdampak adanya pandemi virus corona. Ditambah lagi adanya isu akan terjadinya resesi ekonomi di Indonesia karena adanya kontraksi ekonomi dikuartal II- 2020 yang mengalami minus 5,32%.

Kontraksi ekonomi di kuartal III-2020 yang jadi penentuan resesi ini juga sudah dipastikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia menyatakan, proyeksi ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Sementara, untuk seluruh tahun 2020 berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%. Tak hanya Sri Mulyani, Staf Khusus Menko Perekonomian Reza Yamora Siregar juga mengakui ekonomi RI di kuartal III-2020 masih di zona negatif. Namun, besaran kontraksinya diyakini lebih membaik dibandingkan kuartal sebelumnya.

Saksono Budi, S.E., M.M., CAP.

Selain itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu juga memastikan Indonesia sudah resesi. Bahkan dirinya menyebut resesi sudah terjadi sejak awal kuartal I-2020. Pasalnya, ekonomi dalam negeri sudah mengalami penurunan.

Hal itu dia ungkapkan melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia biasanya berada di level 5%. Namun, sejak kuartal I-2020 ekonomi Indonesia sudah merosot di angka 2,97%.Penurunan terus berlanjut ke kuartal II-2020 yang realisasinya minus 5,32%.
Sebenarnya kalau diperhatikan Indonesia sendiri sudah mulai mengalami resesi sejak serangan COVID-19 terjadi di bulan Maret yang kemudian disusul dengan adanya Lockdown versi Indonesia atau dikenal dengan istilah PSBB.

Mengapa? Karena secara mendadak sendi perekonomian mati suri. Industri pariwisata yang menjadi salah satu penopang ekonomi mendadak berhenti. Toko dan mall serta tempat keramaian harus dihentikan karena takut terjadinya penyebaran virus secara massif. Yang berakibat berhentinya orang berbelanja.

Di saat yang bersamaan, bisnis mulai berjatuhan dan tutup karena tidak kuat harus membayar biaya karyawan, operasional dan lain sebagainya sementara pemasukan tidak ada atau minim. Dari banyak UMKM yang saya temui dan ajak ngobrol, sebagian besar mengatakan bahwa usaha mereka mengalami drop antara 60% bahkan sampai dengan 90%. Itu disebabkan penjualan para UMKM mengalami penurunan drastis selama masa pandemi ini.

Padahal peran pelaku usaha mikro (UMKM) ini sangat besar. Sekitar 98,7 persen dari total pelaku bisnis Indonesia. Kontribusinya terhadap tenaga kerja yaitu 97 persen. Mereka menciptakan 99 persen dari total lapangan kerja dan menyumbang 63 persen total produk domestik bruto nasional.
Sementara itu di tengah pandemi, 7 dari 10 pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM) membutuhkan bantuan modal usaha sebagai bantuan yang paling utama. Kita tahu usaha kecil itu biasanya modalnya cekak.

Jadi kalau mereka tidak bisa jualan, tidak bisa berputar lagi uangnya. Kalau tidak berputar, bisa habis modalnya. Sehingga meski masalah utama penjualan, modal tetap diperlukan untuk jaga usaha.
Dengan mendorong UMKM naik kelas dapat mengurangi tingkat kemiskinan sekitar 20 persen. Setara mengeluarkan 5 juta orang dari kemiskinan.

Lebih jauh, sektor UMKM dapat mengambil peran menjadi fondasi utama dalam menghadapi resesi global. Terutama di Indonesia, terbutkti dengan adanya krisis 1998, UMKM mampu menoopang ekonomi Indonesia sehingga perekonomian Indonesia mampu bangkit kembali pada tahun selanjutnya.

Seharusnya pemerintah memberikan fokus dan perhatian lebih besar lagi kepada UMKM di Indonesia sehingga UMKM bisa naik kelas dan memiliki ketangguhan dalam menopang perekonomian Indonesia. Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 โ€“ 2025 yang menyasar tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan ketimpangan.
Kemudian dalam menentukan arah kebijakan ekonomi dalam menghadapi resesi yang melanda perekonomian negeri ini harus melibatkan penguatan kewirausahaan, UMKM, serta koperasi.

Penulis:
Saksono Budi, S.E., M.M., CAP.